Kamis, 24 Oktober 2013

Khadijahku kembali ke Rahmatullah



Tujuh belas Agustus dua ribu tiga belas, masih teringat jelas dalam bayangku hari terakhir bertemu dengan ibu. Hari itu seperti biasanya setiap aku akan kembali ke Jogja, ibu selalu mempersiapkan apa-apa yang aku butuhkan, memastikan tak ada barang penting yang tertinggal. Di ruang tamu, sambil menunggu kakak yang akan mengantar ke stasiun, aku duduk di samping ibu yang sedang menyematkan bet pada seragam bapak yang akan menjadi pemimpin upacara penurunan bendera. Waktu itu, aku tak pernah menyangka bahwa pengabdian ibu pada keluarga akan diakhirkan oleh Allah di bulan berikutnya.
Tiga puluh satu Agustus dua ribu tiga belas, adalah hari ulang tahun ibu yang ke 44. Kuhaturkan terima kasih kepada Allah atas limpahan berkah yang Allah berikan kepada ibu. Kumohonkan perlindungan kepadaNya, serta agar Allah menjadikan ibu seorang perempuan yang mulia. Di usia 44 tahun itu, 24 tahun waktu ibu telah digunakannya bersama suami dan anak-anaknya. Usiaku saat ini 22 tahun, sehingga pada saat melahirkanku usia ibu adalah 22.
  Kamis malam jumat dua puluh September dua ribu tiga belas, Allah SWT berkehendak memanggil ibu untuk kembali kepadaNya. Bakti ibu pada orang tuanya, suaminya, dan anak-anaknya telah selesai bagi Allah. Ibu yang cantik, menenangkan, menenteramkan, kini kembali menjadi bidadari surga. Hari-hari bahagia bersama ibu, baru akan bisa terjadi lagi saat kami menyusul ibu kelak, itupun bila amalan kami setara dengan ibu. Ibu mulia, sangat taat pada suaminya, pandai membina rumah tangga, melindungi, dan mendidik anak-anaknya.
Bukannya kami tak menyadari bahwa ibu milik Allah SWT. Kesan yang teramat indah yang diberikan ibu membuat kami tak mampu membendung air mata. Tak hanya kami, saudara-saudara, tetangga-tetangga, sahabat-sahabat, pelanggan catering, orang-orang yang dipasar, siapapun mengenal ibu, juga turut merasa kehilangan serta tak menyangka ibu pergi secepat ini. Ibu hidupnya bermanfaat bagi orang lain.
Banyak sekali teladan ibu yang nampaknya sepele namun tak mudah ditiru. Sangat sering ibu memasak tak hanya untuk keluarga, tapi dilebihkan untuk dibagi-bagi. Ibu selalu dengan senang hati melakukannya. Bukankah yang demikian juga bernilai pahala dimata Allah? kalau dilakukan hampir tiap hari berapa banyak kebaikannya? yang ini aku belum bisa mencontoh :(
Ibu mempunyai usaha catering yang dimulai dari hobi memasaknya. Usaha catering ini menjadi berkah bagi banyak orang. Lantaran catering, ibu menjadi pelanggan tetap bagi penjual ayam, telur, kelapa, beras, toko bahan-bahan kue, plastik, dus dll. Lantaran catering, ibu bisa mengajak beberapa orang untuk bekerja dan memperoleh penghasilan yang layak. Lantaran catering, ibu bisa menyekolahkanku sampai setinggi ini. Lantaran catering, ibu dibutuhkan banyak orang. That’s the reason why I want to be entrepreneur like my mother.
Dalam hal menjaga silaturahmi, lagi-lagi ibu menjadi pemenang. Tak memandang siapa orangnya, tak membeda-bedakan kaya atau miskin, orang terpandang atau bukan, ibu selalu menjaga hubungan baik. Dimata teman-temannya, ibu adalah sosok yang perhatian.
Perhatian ibu terhadap anak-anak yatim juga belum dapat kucontoh. Pernah sampai aku cemburu karena perhatian ibu pada anak tetangga yang piatu seperti perhatiannya pada anaknya sendiri. Suatu hari sang anak piatu tersebut pernah menelepon ibu karena ketakutan ditinggal sendiri pada malam hari. Ibu langsung datang dan menemaninya. Ibu tidak pernah lupa membagi makanan untuknya.
Ibu cantik, wajahnya bersih tanpa kosmetik. Ibu tak pernah menghabiskan waktu dan uangnya untuk pergi ke salon. Ibu juga bisa menempatkan diri menjadi istri anggota POLRI tanpa ada kesombongan dalam dirinya. Tak ada pakaian mewah, perhiasan-perhiasan mewah, mobil mewah, handphone mewah dll.
Ibu selalu menjamin kehalalan penghasilan keluarga. Bila bapak membawa uang yang tak jelas kehalalannya ibu tak pernah mau menerima. Ibu bahkan mengingatkan bapak agar tidak mencari rezeki yang haram serta mengingatkan agar bapak melihat rambutnya yang telah beruban.
Dimata bapak, ibu adalah istri yang shalihat. Ibu adalah nikmat yang Allah SWT berikan kepada bapak. Ibu telah menemani perjalanan hidup bapak selama hampir seperempat abad, seperti Khadijah RA menemani Rasulullah SAW selama seperempat abad. Bapak ditinggalkan ibu pada usia lima puluh satu tahun hampir sama seperti Rasulullah SAW yang ditinggalkan Khadijah RA pada usia lima puluh tahun. Khadijah RA pandai berdagang, begitu pula ibu juga pandai berdagang. Seperti Khadijah RA ibu juga sangat setia, sangat sabar, ikhlas menemani dalam suka dan duka, patuh, dan menentramkan. Besar harapanku agar Allah mengampuni dosa-dosa ibu, menerima setiap amal shalih ibu, menjauhkan ibu dari fitnah kubur, serta memuliakan ibu di surga terindah seperti Allah SWT memuliakan Khadijah RA. 
 Kini, bila rindu kami hanya bisa memandangi wajah cantik dan tenang beliau dari foto. Telah selesai tugas-tugas ibu membersamai kami di dunia. Cintanya pada keluarga, pengorbanannya, keteladanannya menjadi penyemangat kami dalam melanjutkan kehidupan. Allah mengetahui segalanya sedangkan kami tidak mengetahui apa-apa. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambaNya. Bapak berpesan agar aku tidak merasa berat, bersandar hanya kepada Allah, dan meyakini bahwa Allah selalu melihat kita. Berpesan agar aku hanya mencari jalan kehidupan akhirat, terus berjuang meraih cita-cita, meneladani apa yang dilakukan ibu, serta mendoakan ibu hingga akhir hayatku.
Semoga Allah SWT meridhoi. Suatu saat nanti, Allah SWT pasti akan mempertemukan kami kembali dengan ibu, dalam nikmat, dan hidup tanpa akhir. Aamin ya Rabbalalamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar