Rabu, 02 April 2014

Lost in Bandung, Telusur Jalan Asia Afrika



-wisata jelajah sejarah-

            Wah, kalau pelajaran sejarah itu jalan-jalan, kalau pelajaran sejarah itu tak sekedar membaca tulisan untuk dihafalkan ketika ujian, kalau pelajaran sejarah itu mau meresapi dalam hati, lebih baik pasti ya. Dalam perjalanan di Bandung kemarin, saya mencoba tak melupakan sejarah besar yang terjadi di Jl Asia Afrika. Saya akui, dulu waktu SMP mendapatkan pelajaran ini, buat saya yang penting tahu kapan dan dimana Konferensi Asia Afrika diselenggarakan, negara mana saja yang hadir, siapa wakil dari Indonesia, dan apa isi Dasasila Bandung, demi nilai rapot yang bagus. Tahu nggak sih itu tuh nggak cuma untuk dihafalkan wulan? kok baru nyadar sekarang ya, huft.
            Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika adalah sebuah konferensi yang dihadiri oleh wakil dari 29 negara di Asia dan Afrika yang baru mendapatkan KEMERDEKAANNYA. Konferensi ini diselenggarakan di GEDUNG MERDEKA Bandung, pada tanggal 18-24 April tahun 1955. Konferensi ini diselenggarakan untuk membahas mengenai hak-hak kemerdekaan negara-negara terjajah, anti kolonialis, anti imperialis, serta mempromosikan kerjasama ekonomi dan budaya diantara negara peserta. Konferensi ini menghasilkan 10 poin keputusan yang dikenal dengan apa? Ya, Dasasila Bandung. Apa aja isinya? Hmm, nggak hafal, tapi intinya tentang perdamaian dunia.
            Berikut ini foto gedung merdeka yang saya ambil. Ingin mengunjungi museumnya tapi tutup karena libur hari raya nyepi.
gedung merdeka sekarang
            Berjalan ke kanan (arah barat) dari gedung merdeka kita akan melihat Kantor Pos Besar Bandung dan Hotel Swarha. Lihatlah bangunan hotel Swarha. Kok jelek? Kok nggak terawat ya? Huruf “W” nya sudah tidak sempurna dimakan waktu. Rupanya, sejarah menyatakan bahwa hotel ini dulunya digunakan sebagai tempat menginap para tamu negara peserta Konferensi Asia Afrika. Dulu hotel ini disebut Swarha Islamic. Benar saja, selain tepat berhimpitan dengan Masjid Agung Bandung, hotel ini kalau diamati arsitekturnya bergaya timur tengah, hmm, dan bukannya peserta konferensi rata-rata dari negara muslim?
Hotel Swarha, look!!
masjid agung
kantor pos besar
Sayang sekali, Hotel Swarha saat ini dibiarkan begitu saja. Mirip rumah hantu di jantung kota, hihihi. Bagian bawah gedung ini hanya digunakan sebagai toko kain. Ah ya, Hotel Swarha konon dulunya juga digunakan sebagai media centernya para jurnalis yang meliput Konferensi Asia Afrika. Why? Hmm, karena letaknya strategis dan dekat dengan Kantor Pos Besar. Bukannya yang demikian memudahkan untuk mengirim liputan? Jaman dulu, belum ada internet, pakai surat elektronik alias telegram. Subhanallah, kemajuan teknologi, sekarang informasi begitu mudah kita dapatkan.
.           Lalu, apabila kita berjalan ke kiri (arah timur) dari gedung merdeka, kita akan menemukan Hotel Savoy Homann dan Bandung kilometer nol. Sama seperti Hotel Swarha, Hotel Savoy Homann dulunya juga digunakan sebagai tempat penginapan yang dibooking oleh panitia Konferensi Asia Afrika. Hotel berbintang empat dengan arsitektur yang bentuknya seperti gelombang ini sampai sekarang masih berdiri megah. Walaupun tak setinggi Hyatt, The Aamaroosa, Arion Swiss, atau yang lain, hotel ini meninggalkan kenangan sejarah tersendiri yang membuatnya bernilai mahal. Tarifnya per malam mulai Rp. 1.200.000,-. Dulunya Hotel ini milik pribadi keluarga Homann dari Jerman. Nyonya Homann terkenal dengan masakannya yang sangat lezat. Namun setelah kemerdekaan mereka kembali ke Jerman dan hotel ini dibeli oleh grup hotel bidakara sehingga namannya saat ini adalah Savoy Homann Bidakara Hotel. Hmm, suatu saat menginap disini, Mau? Hihi.
hotel Savoy Homann

Bandung nol kilometer

            Bandung kilometer nol terletak tak jauh di seberang hotel Savoy Homann persis di depan kantor bina marga Propinsi Jawa Barat. Bila teman-teman ingat Mr. Deandels seorang jenderal Belanda yang merintis kerja paksa Anyer-Panarukan itu, dialah yang dulunya bersumpah, “bila aku kembali kesini, titik ini haruslah sudah menjadi sebuah kota”. Nah, begitulah cerita asal muasal titik nol kilometer Bandung.
            Masih banyak gedung-gedung bersejarah lainnya di Jalan Asia Afrika yang belum saya pahami ceritanya. Just that, yang baru saya tahu. Pastilah masih sangat banyak, pembelajaran sejarah yang mengagumkan lainnya. Semoga, terus ada semangat untuk menyelami sejarah di setiap sudut negeri kita. Semoga juga, terus ada rasa peduli, untuk meresapi perjuangan para pahlawan.

Bagaimana, siap menjelajah tempat-tempat bersejarah yang lain?
Semangat Pagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar