Tujuh
belas Agustus dua ribu tiga belas, masih teringat jelas dalam bayangku hari
terakhir bertemu dengan ibu. Hari itu seperti biasanya setiap aku akan kembali
ke Jogja, ibu selalu mempersiapkan apa-apa yang aku butuhkan, memastikan tak
ada barang penting yang tertinggal. Di ruang tamu, sambil menunggu kakak yang
akan mengantar ke stasiun, aku duduk di samping ibu yang sedang menyematkan bet
pada seragam bapak yang akan menjadi pemimpin upacara penurunan bendera. Waktu
itu, aku tak pernah menyangka bahwa pengabdian ibu pada keluarga akan
diakhirkan oleh Allah di bulan berikutnya.
Tiga
puluh satu Agustus dua ribu tiga belas, adalah hari ulang tahun ibu yang ke 44.
Kuhaturkan terima kasih kepada Allah atas limpahan berkah yang Allah berikan
kepada ibu. Kumohonkan perlindungan kepadaNya, serta agar Allah menjadikan ibu
seorang perempuan yang mulia. Di usia 44 tahun itu, 24 tahun waktu ibu telah
digunakannya bersama suami dan anak-anaknya. Usiaku saat ini 22 tahun, sehingga
pada saat melahirkanku usia ibu adalah 22.
Kamis
malam jumat dua puluh September dua ribu tiga belas, Allah SWT berkehendak
memanggil ibu untuk kembali kepadaNya. Bakti ibu pada orang tuanya, suaminya,
dan anak-anaknya telah selesai bagi Allah. Ibu yang cantik, menenangkan,
menenteramkan, kini kembali menjadi bidadari surga. Hari-hari bahagia bersama
ibu, baru akan bisa terjadi lagi saat kami menyusul ibu kelak, itupun bila
amalan kami setara dengan ibu. Ibu mulia, sangat taat pada suaminya, pandai
membina rumah tangga, melindungi, dan mendidik anak-anaknya.
Bukannya
kami tak menyadari bahwa ibu milik Allah SWT. Kesan yang teramat indah yang
diberikan ibu membuat kami tak mampu membendung air mata. Tak hanya kami,
saudara-saudara, tetangga-tetangga, sahabat-sahabat, pelanggan catering,
orang-orang yang dipasar, siapapun mengenal ibu, juga turut merasa kehilangan
serta tak menyangka ibu pergi secepat ini. Ibu hidupnya bermanfaat bagi orang
lain.
Banyak
sekali teladan ibu yang nampaknya sepele namun tak mudah ditiru. Sangat sering
ibu memasak tak hanya untuk keluarga, tapi dilebihkan untuk dibagi-bagi. Ibu
selalu dengan senang hati melakukannya. Bukankah yang demikian juga bernilai
pahala dimata Allah? kalau dilakukan hampir tiap hari berapa banyak
kebaikannya? yang ini aku belum bisa mencontoh :(
Ibu
mempunyai usaha catering yang dimulai dari hobi memasaknya. Usaha catering ini
menjadi berkah bagi banyak orang. Lantaran catering, ibu menjadi pelanggan
tetap bagi penjual ayam, telur, kelapa, beras, toko bahan-bahan kue, plastik,
dus dll. Lantaran catering, ibu bisa mengajak beberapa orang untuk bekerja dan
memperoleh penghasilan yang layak. Lantaran catering, ibu bisa menyekolahkanku
sampai setinggi ini. Lantaran catering, ibu dibutuhkan banyak orang. That’s the reason why I want to be entrepreneur
like my mother.
Dalam hal
menjaga silaturahmi, lagi-lagi ibu menjadi pemenang. Tak memandang siapa
orangnya, tak membeda-bedakan kaya atau miskin, orang terpandang atau bukan,
ibu selalu menjaga hubungan baik. Dimata teman-temannya, ibu adalah sosok yang
perhatian.
Perhatian
ibu terhadap anak-anak yatim juga belum dapat kucontoh. Pernah sampai aku
cemburu karena perhatian ibu pada anak tetangga yang piatu seperti perhatiannya
pada anaknya sendiri. Suatu hari sang anak piatu tersebut pernah menelepon ibu
karena ketakutan ditinggal sendiri pada malam hari. Ibu langsung datang dan
menemaninya. Ibu tidak pernah lupa membagi makanan untuknya.
Ibu
cantik, wajahnya bersih tanpa kosmetik. Ibu tak pernah menghabiskan waktu dan
uangnya untuk pergi ke salon. Ibu juga bisa menempatkan diri menjadi istri
anggota POLRI tanpa ada kesombongan dalam dirinya. Tak ada pakaian mewah,
perhiasan-perhiasan mewah, mobil mewah, handphone mewah dll.
Ibu
selalu menjamin kehalalan penghasilan keluarga. Bila bapak membawa uang yang
tak jelas kehalalannya ibu tak pernah mau menerima. Ibu bahkan mengingatkan
bapak agar tidak mencari rezeki yang haram serta mengingatkan agar bapak melihat
rambutnya yang telah beruban.
Dimata
bapak, ibu adalah istri yang shalihat. Ibu adalah nikmat yang Allah SWT berikan
kepada bapak. Ibu telah menemani perjalanan hidup bapak selama hampir
seperempat abad, seperti Khadijah RA menemani Rasulullah SAW selama seperempat
abad. Bapak ditinggalkan ibu pada usia lima puluh satu tahun hampir sama
seperti Rasulullah SAW yang ditinggalkan Khadijah RA pada usia lima puluh
tahun. Khadijah RA pandai berdagang, begitu pula ibu juga pandai berdagang. Seperti
Khadijah RA ibu juga sangat setia, sangat sabar, ikhlas menemani dalam suka dan
duka, patuh, dan menentramkan. Besar harapanku agar Allah mengampuni dosa-dosa
ibu, menerima setiap amal shalih ibu, menjauhkan ibu dari fitnah kubur, serta
memuliakan ibu di surga terindah seperti Allah SWT memuliakan Khadijah RA.
Kini,
bila rindu kami hanya bisa memandangi wajah cantik dan tenang beliau dari foto. Telah
selesai tugas-tugas ibu membersamai kami di dunia. Cintanya pada keluarga,
pengorbanannya, keteladanannya menjadi penyemangat kami dalam melanjutkan
kehidupan. Allah mengetahui segalanya sedangkan kami tidak mengetahui apa-apa.
Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hambaNya. Bapak berpesan agar
aku tidak merasa berat, bersandar hanya kepada Allah, dan meyakini bahwa Allah
selalu melihat kita. Berpesan agar aku hanya mencari jalan kehidupan akhirat,
terus berjuang meraih cita-cita, meneladani apa yang dilakukan ibu, serta
mendoakan ibu hingga akhir hayatku.
Semoga
Allah SWT meridhoi. Suatu saat nanti, Allah SWT pasti akan mempertemukan kami
kembali dengan ibu, dalam nikmat, dan hidup tanpa akhir. Aamin ya Rabbalalamin.