Minggu, 17 November 2013

Mencintai Pekerjaan yang Barakah

Hidup di dunia ini spekulatif. Hidup di istana bisa menderita, hidup di penjara bisa bahagia. Sementara, hidup di akhirat itu pasti. Yang di surga pasti mulia, yang di neraka pasti hina. Milih yang mana kawan? Yang pasti-pasti aja ya. Seorang ustad berpesan agar kita membangun dua rumah. Yang pertama adalah rumah di dunia yang pasti akan ditinggalkan, dan yang kedua adalah rumah di akhirat yang pasti akan ditiggali.

            Membangun dua rumah seperti yang dipesankan oleh ustad tesebut diatas, maka we need to move on, bergerak, dan bekerja. Move on berarti berpindah dari kemalasan, dan kesia-siaan. Bergerak menuju apa yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap kita sebagai makhlukNya. Bekerja untuk menjemput rizki yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan sekaligus sebagai jalan jihad fi sabilillah.

            Membicarakan tentang bekerja maka gayung bersambut dengan yang disebut profesi. Profesi adalah kegiatan yang dikerjakan seseorang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Salah satu tujuan dari profesi adalah sarana untuk mendapatkan uang, gaji, upah, dsb. What’s your profesion? a doctor, policeman, teacher, soldier, president, carpenter, driver, office boy, entrepreneur, entertainer, nurse, farmer, etc.


            Dengan banyaknya manusia yang berbeda-beda dimuka bumi ini, Allah SWT telah menetapkan hidup, mati, rizki, dan jodoh. Oleh karena itu, setiap manusia tidaklah sama, mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Jadi tidak mungkin semuanya berprofesi menjadi guru. Tidak mungkin semuanya berprofesi menjadi petani. Bila semuanya menjadi dokter, lantas siapa yang menjadi pasien, bila semuanya menjadi presiden, lantas siapa yang menjadi rakyatnya.

            Bagaimana seharusnya kita berprofesi? Niatkanlah kembali pada tujuan membangun dua rumah seperti yang dipesankan oleh ustad yang disebutkan diwal. Kesemuanya itu hanya bisa diwujudkan apabila kita istiqomah beramal shalih. Apabila bukan amal shalih yang menjadi prinsip, maka kita akan merasakan spekulatifnya hidup didunia (hidup di istana bisa menderita). Masih bagus hidup di istana, lha kalo udah dipenjara dan menderita? Sudah jatuh tertimpa tangga. Dengan prinsip amal shalih, kita tidak akan diperbudak oleh dunia yang hanya sementara ini.

            Rumah di dunia pasti akan ditinggalkan. Sebagus apapun, semewah apapun, bila sudah saatnya menghadap Allah SWT, suka tidak suka, mau tidak mau, maka kita harus meninggalkannya. Tak ada satupun barang-barang yang dibawa, tidak perhiasan emas, kasur yang sangat empuk, mobil, dsb. Semuanya akan terputus kecuali tiga hal, yakni: ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya.

            So, kembali ke urusan profesi, apapun profesinya, maka harus memenuhi syarat berikut:

1)    bisa untuk membangun rumah di dunia yang cukup untuk sementara,

2)    bisa untuk membangun rumah di surga yang cukup untuk selamanya,

3)    bisa untuk sarana membagi ilmu yang bermanfaat

4)    bisa untuk sarana bershadaqoh jariyah

5)    bisa untuk mendidik anak-anak menjadi shalih dan shalihat.

Dengan memahami kelima hal diatas, maka kita tidak akan pernah berharap bahwa profesi hanya untuk mendapatkan uang dan kemapanan hidup. Tidak, Allah berkuasa diatasnya. Sangat mungkin, sekeluarga yang terdiri dari 5 orang merasa cukup dengan uang satu juta perbulan. Sementara, orang yang hanya sendiri, bisa jadi satu juta perbulan sangatlah kurang. Yang kita harapkan adalah memaksimalkan mencari kelima hal diatas, sementara Allah yang akan mencukupkannya.

Agar bisa membagi ilmu yang bermanfaat, tak hanya menjadi guru yang bisa ditempuh. Karena membagi ilmu tak hanya bisa dilakukan melalui pendidikan formal. Agar bisa bershadaqoh yang jariyah, tak hanya dengan menjadi pengusaha yang bisa ditempuh. Karena bersedekah itu banyak dan sedikitnya tergantung kemampuan kita dimata Allah, dan tergantung keikhlasan di dalam hati. Apapapun profesi kita pasti ada cara untuk membagi ilmu dalam bidang yang kita miliki, dan bersedekah pula dari bidang yang kita tekuni.

            Agar bisa memiliki anak yang shalih dan shalihah, maka seiring dengan berjalannya waktu dan seiring dengan umur yang diberikan Allah kita harus menjadi orang tua. Profesi menjadi ibu atau ayah, adalah profesi paling mulia diantara profesi yang lain. Karena, mendidik anak, tidaklah mudah. Anak adalah titipan Allah yang menjadi agen muslim penerus kita selanjutnya menebarkan cahaya islam. Dengan memiliki anak yang shalih dan shalihah, maka jalan bagi orang tua yang menuju ridha Allah menjadi sangat ringan.

            Dengan mencintai profesi kita, selama ia halal dan thayib di mata Allah, maka dunia dalam genggaman. Seberapapun rizki yang Allah berikan, adanya hanyalah rasa syukur yang tiada habis. Seberapapun ujian yang menimpa kita, adanya hanyalah kesabaran yang tiada habis. Lebih mulia menjadi tukang sapu yang jujur, ikhlas, dan amanah daripada menjadi pemimpin yang angkuh, sombong, dan lalai. Lebih bersih orang yang bekerja mengais sampah, daripada orang yang berdasi tapi korupsi uang rakyat.

            Salam. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar